Kamis, 13 Juni 2013

LAPORAN EKOLOGI HEWAN


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (atau disingkat TN Babul) terletak di Sulawesi Selatan, seluas ± 43.750 Ha. Secara administrasi pemerintahan, kawasan taman nasional ini terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Secara geografis areal ini terletak antara 119° 34’ 17” – 119° 55’ 13” Bujur Timur dan antara 4° 42’ 49” – 5° 06’ 42” Lintang Selatan. Secara kewilayahan, batas-batas TN Babul adalah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkep, Barru dan Bone, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone, Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki berbagai keunikan, yaitu: kars, goa-goa dengan stalaknit yang indah, dan yang paling dikenal adalah kupu-kupu yang menjadikan Bantimurung dikenal sebagai kawasan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Taman Nasional ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang menyuguhkan wisata alam berupa lembah bukit kapur yang curam dengan vegetasi tropis, air terjun, dan gua yang merupakan habitat beragam spesies kupu-kupu.
Taman Nasional ini memang menonjolkan kupu-kupu sebagai daya tarik utamanya. Di tempat ini sedikitnya ada 20 jenis kupu-kupu yang dilindungi pemerintah dan ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah No. 7/1999. Beberapa spesies unik bahkan hanya terdapat di Sulawesi Selatan, yaitu Troides Helena Linne, Troides Hypolitus Cramer, Troides Haliphron Boisduval, Papilo Adamantius, dan Cethosia Myrana. Antara tahun 1856-1857, Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. Wallace menyatakan Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Menurutnya di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 150 spesies kupu-kupu.
Lokasi wisata ini juga memeliki dua buah gua yang bisa dimanfaatkan sebagai wisata minat khusus. Kedua gua itu adalah Gua Batu dan Gua Mimpi. Maka dari itu kawasan ini sangat baik untuk dijadikan kawasan penelitian tentang jenis-jenis hewan yang berada di dalamnya baik hewan-hewan invertebrata maupun hewan vertebrata.
B.     Tujuan Praktikum
1.      Tujuan dari percobaan ini adalah untuk melatih mahasiswa menyelidiki keragaman komunitas suatu ekosistem tertentu melalui indeks keragaman, indeks dominansi dan indeks kemerataan.
2.      Untuk melatih mahasiswa agar dapat terbiasa dalam meneliti di alam bebas.
C.     Manfaat Praktikum
Mahasiswa dapat mengetahui berbagai keragaman komunitas hewan-hewan yang terdapat di dalam hutan baik yang tergolong invertebrata maupun vertebrata.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Keanekaragaman (Indeks Diversitas)
Keragaman jenis adalah sifat komunitas yang memperlihatkan tingkat keanekaragaman jenis organisme yang ada di dalamnya. Untuk memperoleh keanekaragaman jenis cukup diperlukan kemampuan mengenal atau membedakan jenis meskipun tidak dapat mengidentifikasi jenis hama (Krebs, 1978).
Indeks Keanekaragaman dapat digunakan untuk menyatakan hubungan kelimpahan spesies dalam komunitas. Keanekaragaman spesies terdiri dari jumlah spesies dalam komunitas (kekayaan spesies) dan kesamaan spesies. Kesamaan menunjukkan bagaimana kelimpahan spesies itu (jumlah individu, biomassa, penutup tanah, dsb) tersebar antara banyak spesies itu. Contohnya, pada suatu komunitas terdiri dari 10% spesies, jika 90% adalah 1 spesies dan 10% adalah 9 jenis yang tersebar, kesamaan disebut rendah. Sebaliknya jika masing-masing spesies jumlahnya 10%, kesamaannya maksimum. Beberapa tahun kemudian muncul penggolongan indeks atas indeks kekayaan dan indeks kesamaan. Setelah itu digabungkan menjadi Indeks Keanekaragaman dengan variabel yang menggolongkan struktur komunitas seperti jumlah spesies, kelimpahan relarif spesies (kesamaan), homogenitas dan ukuran dari area sampel (Anonim, 2008).
Keragaman hayati merupakan variabilitas antar makhluk hidup dari semua sumber daya, termasuk di daratan, ekosistem perairan dan kompleks ekologis termasuk juga keanekaragaman dalam spesies di antara spesies dan ekosistemnya. Sepuluh persen dari ekosistem alam berupa suaka alam, suaka marga satwa, taman nasional, hutan lindung dan sebagian lagi untuk kepentingan budi daya plasma nutfah yang dialokasikan sebagai kawasan yang dapat memberi perlindungan bagi keanekaragaman hayati (Arief, 2001).
Jasa-jasa ekologis yang diemban oleh keanekaragaman hayati pertanian, diantaranya jasa penyerbukan, jasa penguraian, dan jasa pengendali hayati (predator, parasitoid, dan patogen) untuk mengendalikan hama, sangatlah penting bagi pertanian berkelanjutan. Dengan adanya kemajuan pertanian modern, prinsip ekologi telah diabaikan secara berkesinambungan, akibatnya agroekosistem menjadi tidak stabil. Perusakan-perusakan tersebut menimbulkan munculnya hama secara berulang dalam sistem pertanian, salinisasi, erosi tanah, pencemaran air, timbulnya penyakit dan sebagainya (Emden and Dabrowski, 1997).
B.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Indeks Keanekaragaman
Dalam ekosistem alami semua makhluk hidup berada dalam keadaan seimbang dan saling mengendalikan sehingga tidak terjadi hama. Di ekosistem alamiah keragaman jenis sangat tinggi yang berarti dalam setiap kesatuan ruang terdapat flora dan fauna tanah yang beragam. Sistem pertanaman yang beranekaragam berpengaruh kepada populasi spesies hama (Oka, 1995).
Menurut Krebs (1978), ada 6 faktor yang saling berkaitan menentukan derajat naik turunnya keragaman, jenis yaitu :
1.      Waktu, keragaman komunitas bertambah sejalan waktu, berarti komunitas tua yang sudah lama berkembang, lebih banyak terdapat organisme dari pada komunitas muda yang belum berkembang. Waktu dapat berjalan dalam ekologi lebih pendek atau hanya sampai puluhan generasi.
2.      Heterogenitas ruang, semakin heterogen suatu lingkungan fisik semakin kompleks komunitas flora dan fauna disuatu tempat tersebar dan semakin tinggi keragaman jenisnya.
3.      Kompetisi, terjadi apabila sejumlah organisme menggunakan sumber yang sama yang ketersediannya kurang, atau walaupun ketersediannya cukup, namun memanfaatkan sumber tersebut, yang satu menyerang yang lain atau sebaliknya.
4.      Pemangsaan, untuk mempertahankan komunitas populasi dari jenis persaingan yang berbeda di bawah daya dukung masing-masing selalu memperbesar kemunginan hidup berdampingan sehingga mempertinggi keragaman. Apabila intensitas dari pemangsaan terlalu tinggi atau rendah dapat menurunkan keragaman jenis.
5.      Kestabilan iklim, makin stabil, suhu, kelembaban, salinitas, pH dalam suatu lingkungan keberlangsungan evolusi.
6.      Produktifitas, juga dapat menjadi syarat mutlak untuk keanekaragaman yang tinggi.
Keenam faktor ini saling berinteraksi untuk menetapkan keanekaragaman jenis dalam komunitas yang berbeda. Keanekaragaman spesies sangatlah penting dalam menentukan batas kerusakan yang dilakukan terhadap sistem alam akibat turut campur tangan manusia (Michael, 1995).
Hambatan lingkungan merupakan faktor biotik dan abiotik di ekosistem yang cenderung menurunkan fertilitas dan kelangsungan hidup individu-individu persaingan tetap terjadi juga bila organisme-organisme tersebut. Lingkungan yang stabil, lebih dalam populasi organisme. Faktor tersebut menghalangi suatu organisme untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi biotiknya. Faktor-faktor lingkungan tersebut ada dua yaitu faktor yang berasal dari luar populasi (faktor ekstrinsik) terdiri dari faktor biotik seperti makanan, predasi dan kompetisi dan faktor abiotik seperti iklim, tanah, air dan faktor yang berasal dari dalam populasi (faktor intrinsik) seperti persaingan intrasfesifik dalam bentuk teritorialitas dalam tekanan sosial (Untung, 1996).
Keanekaragaman tanaman merupakan faktor yang mempengaruhi tingginya keanekaragaman individu-individu yang ada di dalamnya, semakin tinggi keragaman ekosistem dan semakin lama keragaman ini tidak diganggu oleh manusia, semakin banyak pula interaksi internal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas serangga. Hasil studi interaksi tanaman gulma serangga diperoleh bahwa gulma mempengaruhi keragaman dan keberadaan serangga herbivora dan musuh-musuh alaminya dalam sistem pertanian. Bunga gulma tertentu memegang peranan penting sebagai sumber pakan parasitoid dewasa yang dapat menekan populasi serangga hama (Altieri, 1999).









BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Alat dan Bahan
1.      Alat
·         Plot berukuran 1 x 1 meter
·         Jaring perangkap serangga
·         Lup
·         Stopwatch
2.      Bahan
·         Semua jenis hewan yang terdapat di lokasi percobaan
B.     Prosedur Kerja
1.      Menyediakan plot berukuran 1 x 1 meter
2.      Meletakkan plot tersebut pada lokasi tempat pengamatan secara acak, lalu membiarkan selama 4 menit.
3.      Menangkap jenis serangga yang terbang dengan menggunakan jaring dan menghitung yang ada di permukaan tanah yang terdapat di dalam plot tersebut.
4.      Mengulangi percobaan tersebut sebanyak 7 kali
5.      Mencatat seluruh hasil pengamatan pada tabel pengamatan
6.      Membuat laporan hasil percobaan
C.     Waktu Dan Lokasi Kegiatan
Praktikum lapang mata kuliah Ekologi Hewan ini dilakukan pada tanggal 8 Desember 2011 di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 








BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Tabel 1: Hasil Pengamatan
Plot 1
No
Spesies
Jumlah
Keterangan
1
Luing
5
Hidup
2
Lipan (Scolopedra subspinipes)
1
Hidup
3
Semut Hitam kecil
80
Hidup
4
Rayap Tanah (Makrotermes gulvus)
10
Hidup
Plot 2
No
Spesies
Jumlah
Keterangan
1
Semut Hitam Besar
35
Hidup
2
Luing
1
Hidup
3
Laba-laba Kecil (Arachnida)
1
Hidup
Plot 3
No
Spesies
Jumlah
Keterangan
1
Nyamuk (Anipheles sp.)
20
Hidup
2
Semut Hitam Kecil
40
Hidup
3
Laba-laba Kecil (Arachnida)
1
Hidup
4
Spesies A
1
Hidup
Plot 4
No
Spesies
Jumlah
Keterangan
1
Luing
2
Hidup
2
Kupu-kupu (Papilio sp.)
1
Hidup
Plot 5
No
Spesies
Jumlah
Keterangan
1
Kupu-kupu (Papilio sp.)
2
Hidup
2
Semut Hitam Kecil
20
Hidup
Plot 6
No
Spesies
Jumlah
Keterangan
1
Semut Hitam Kecil
80
Hidup
2
Kupu-kupu (Papilio sp.)
1
Hidup
Plot 7
No
Spesies
Jumlah
Keterangan
1
Luing
2
Hidup
2
Kupu-kupu (Papilio sp.)
2
Hidup

Tabel 2: Rekapitulasi Jumlah pada Spesies Setiap Plot
No
Spesies
Jumlah
Rata-rata
Keterangan
1
Luing
5
5/7 = 0,72

2
Lipan (Scolopedra subspinipes)
1
1/7 = 0,14

3
Semut Hitam Kecil
220
220/7 = 31,5

4
Semut Hitam Besar
35
35/7 = 5

5
Rayap Tanah (Makrotermes gulvus)
10
10/7 = 1,43

6
Laba-laba Kecil (Arachnida)
2
2/7 = 0,29

7
Nyamuk (Anopheles sp.)
20
20/7 = 2,86

8
Spesies A
1
1/7 = 0,14

9
Kupu-kupu (Papilio sp.)
6
6/7 =0,86

Rumus Analisis Data
Tabel 3: Analisis Data
No
Nama Spesies
Jumlah
K
KR
Fr
NP
1
Luing
5
5/1 = 5
5/300X100%= 1,7%
5/7 = 0,72
2,42
2
Lipan (Scolopedra subspinipes)
1
1/1 = 1
1/300X100%= 0,3%
1/7 = 0,14
0,44
3
Semut Hitam Kecil
220
220/1 = 220
220/300X100%= 73%
220/7 = 31,5
104,5
4
Semut Hitam Besar
35
35/1 = 35
35/300X100%= 12%
35/7 = 5
17
5
Rayap Tanah (Makrotermes gulvus)
10
10/1 = 10
10/300X100%= 3,3%
10/7 = 1,43
4,73
6
Laba-laba Kecil (Arachnida)
2
2/1 = 2
2/300X100%= 0,7%
2/7 = 0,29
0,36
7
Nyamuk (Anopheles sp.)
20
20/1 = 20
20/300X100%= 7%
20/7 = 2,86
9,86
8
Spesies A
1
1/1 = 1
1/300X100%= 0,3%
1/7 = 0,14
0,17
9
Kupu-kupu (Papilio sp.)
6
6/1 = 6
6/300X100%= 2%
6/7 = 0,86
2,86

B.     Pembahasan
Praktikum keragaman komunitas di Taman Nasional Bantimurung di peroleh data yang beragam dari 7 plot yang diletakkan secara acak di lokasi praktikum. Data pada plot pertama yaitu diperoleh Luing sebanyak 5 individu, Lipan (Scolopedra subspinipes) 1 individu, Semut Hitam kecil sebanyak 80 individu, dan Rayap Tanah (Makrotermes gulvus) sebanyak 10 individu yang semuanya hidup. Data pada plot kedua yaitu diperoleh Semut Hitam Besar sebanyak 35 individu, Luing 1 individu, dan Laba-laba Kecil (Arachnida) 1 individu. Data pada plot ketiga yaitu diperoleh Nyamuk (Anopheles sp.) sebanyak 20 individu, Semut Hitam Kecil sebanyak 40 individu, Laba-laba Kecil (Arachnida) 1 individu, dan Spesies A 1 individu. Data pada plot keempat yaitu diperoleh Luing sebanyak 2 individu, dan Kupu-kupu (Papilio sp.) 1 individu. Data pada plot kelima yaitu diperoleh Kupu-kupu (Papilio sp.) sebanyak 2 individu, dan Semut Hitam Kecil sebanyak 20 individu. Data pada plot keenam yaitu diperoleh Semut Hitam Kecil sebanyak 80 individu, dan Kupu-kupu (Papilio sp.) 1 individu. Data pada plot ketujuh yaitu diperoleh Luing sebanyak 2 individu, dan Kupu-kupu (Papilio sp.) sebanyak 2 spesies.
Rekapitulasi jumlah spesies pada setiap plot yaitu diperoleh jumlah rata-rata setiap individu yang didapat. Jumlah keseluruhan Luing yang diperoleh yaitu 5 individu, jumlah keseluruhan Lipan (Scolopedra subspinipes) yaitu 1 individu, jumlah keseluruhan Semut Hitam Kecil yaitu 220 individu, jumlah keseluruhan Semut Hitam Besar yaitu 35 individu, jumlah keseluruhan Rayap Tanah (Makrotermes gulvus) yaitu 10 individu, jumlah keseluruhan Laba-laba Kecil (Arachnida) yaitu 2 individu, jumlah keseluruhan Nyamuk (Anopheles sp.) yaitu 20 individu, jumlah keseluruhan Spesies A yaitu 1 individu, dan jumlah keseluruhan Kupu-kupu (Papilio sp.) yaitu 6 individu.
Analisis data yang dilakukan pada data yang diperoleh bertujuan untuk mencari kerapatan dari spesies, kerapatan relatif, frekuensi, dan nilai penting dari setiap spesies yang diperoleh. Pada Luing nilai kerapatannya 5, nilai kerapatan relatif 1,7%, nilai frekuensi 0,72, dan nilai pentingnya yaitu 2,42. Pada Lipan (Scolopedra subspinipes) nilai kerapatannya 1, nilai kerapatan relatif 0,3%, nilai frekuensi 0,14, dan nilai pentingnya yaitu 0,44. Pada Semut Hitam Kecil nilai kerapatannya 220, nilai kerapatan relatif 73%, nilai frekuensi 31,5, dan nilai pentingnya yaitu 104,5. Pada Semut Hitam Besar nilai kerapatannya 35, nilai kerapatan relatif 12%, nilai frekuensi 5, dan nilai pentingnya yaitu 17. Pada Rayap Tanah (Makrotermes gulvus) nilai kerapatannya 10, nilai kerapatan relatif 3,3%, nilai frekuensi 1,43, dan nilai pentingnya yaitu 4,73. Pada Laba-Laba Kecil (Arachnida) nilai kerapatannya 2, nilai kerapatan relatif 0,7%, nilai frekuensi 0,29, dan nilai pentingnya yaitu 0,36. Pada Nyamuk (Anopheles sp.) nilai kerapatannya 20, nilai kerapatan relatif 7%, nilai frekuensi 2,86, dan nilai pentingnya yaitu 9,86. Pada Spesies A nilai kerapatannya 1, nilai kerapatan relatif 0,3%, nilai frekuensi 0,14, dan nilai pentingnya yaitu 0,17. Pada Kupu-kupu (Papilio sp.) nilai kerapatannya 6, nilai kerapatan relatif 2%, nilai frekuensi 0,86, dan nilai pentingnya yaitu 2,86.
Dari hasil analisis data diperoleh nilai penting dari masing-masing spesies. Nilai penting yang tertinggi 104,5 pada Semut hitam kecil dan nilai penting terendah 0,17 pada Spesies A. Jadi keragaman komunitas tertinggi di Taman Nasional Bantimurung dari hasil praktikum yaitu Semut hitam kecil.












BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Jenis-jenis spesies yang diperoleh dari praktikum di Taman Nasional Bantimurung yaitu Luing, Lipan (Scolopedra subspinipes), Semut Hitam Kecil, Semut Hitam Besar, Rayap Tanah (Makrotermes gulvus), Laba-laba Kecil (Arachnida), Nyamuk (Anopheles sp.), Spesies A, dan Kupu-kupu (Papilio sp.) yang terdapat di tujuh plot yang diletakkan secara acak di lokasi praktikum.
Nilai keragaman komunitas tertinggi yang diperoleh yaitu Semut hitam kecil dengan nilai penting 104,5 dan keragaman komunitas terendah yang diperoleh yaitu Spesies A dengan nilai penting 0,17.
B.     Saran
1.      Mahasiswa yang ingin melakukan penelitian semacam ini diharapkan agar meneliti spesies yang lebih beragam.
2.      Hewan yang diperoleh dari praktikum sebaiknya dilepas kembali setelah data telah diambil.
3.      Mahasiswa harus lebih serius dalam melakukan praktikum agar data yang diperoleh lebih akurat dan tidak dimanipulasi.









DAFTAR PUSTAKA
Bantimurung Objek Wisata Terbaik Di Sulawesi Selatan. 2011. http: //www. pustakasekolah. com/bantimurung-objek-wisata-terbaik-di-sulawesi-selatan. html/ feed. Diakses pada tanggal 14 Desember 2011 17:04:38.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. 2011. http:// www. detiknusantara. com/ index. php?option=com_content&view=article&id=1947: mengunjungi-taman-nasional-bantimurung-maros&catid=40: sulsel&Itemid=90. Diakses pada tanggal 12 Desember 2011 19:44:08.
Wisata Bantimurung di Sulawesi Selatan.2011. http://ucha-weblog.com. Diakses pada tanggal 14 Desember 2011 17:05:40.











LAMPIRAN
   
Luing Hitam                                        Laba-laba Kecil (Arachnida)
   
Kupu-kupu (Papilio sp.)
    
Spesies A                                            Lipan (Scolopedra subspinipes)
    
Laba-laba Kecil (Arachnida)                           Semut Hitam Besar
    
Arachnida                                                        Luing Merah
    
Suasana Praktikum
Kelompok 6

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar